Showing posts with label lmi. Show all posts
Showing posts with label lmi. Show all posts

NALURI QURBAN (DZULHIJAH 1429 H) 2008

LEMBAGA MANAJEMEN INFAQ (LMI) BOJONEGORO
MENYALURKAN HEWAN QURBAN KE DESA TERTINGGAL
(Tunaikan naluri qurban anda untuk saudara kita di pelosok desa terpencil)

BAYAR MUDAH, MANFAATNYA LUAR BIASA.
Pagi, Siang, Malam, Panas, atau malas pergi kemana-mana ? Kami siap menjemput dana qurban ditempat anda. Penyaluran tepat sasaran dengan jaringan 18 Kantor Cabang yang tersebar di seluruh Jawa Timur.

Paket Naluri Qurban LMI antara lain :
* Kambing berbagi Rp 750.000,00
* Sapi berbagi Rp 6.500.000,00
* Sapi kolektif 8 orang Rp 950.000,00/orang

Cara mudah berpartisipasi :
1. Layanan jemput qurban 0353 770 2267
2. Datang langsung ke kantor LMI Jl. Ade Irma Suryani 66 Bojonegoro telp. 0353 770 2267

AYO BURUAN DAFTAR, JANGAN SAMPAI KETINGGALAN UNTUK BERPARTISIPASI

IDUL ADHA 1429 H SUDAH DEKAT

Idul Fitri 1429 H telah berlalu dan sebentar lagi kita kedatangan hari raya kurban yaitu Idul Adha 1429 H (10 Dzulhijah 1429 H) atau 08 Desember 2008 hari Senin. Pada setiap menjelang ramadhan dan idul fitri kita sibuk mempersiapkan segala keperluan, dan mengingat-ingat uang apa dan dari mana yang akan digunakan memenuhi keperluan tersebut. Mulai kebutuhan pangan, sandang, zakat, biaya mudik, oleh-oleh, bagi-bagi uang ke sanak keluarga dll. Setelah idul fitri berlalu tentunya segala kebutuhan sudah terpenuhi.

Sebagai pengguna/pengunjung internet, kita tentu sudah biasa mengkonsumsi daging dan mungkin sudah tidak tertarik dengan menu makanan dari daging atau mungkin juga diet/anti daging. Tapi sebagian dari lingkungan kita (tetangga desa/kecamatan) jarang sekali makan daging. Mereka tidak mampu membeli daging (maaf). Padahal daging itu perlu dikonsumsi sebagai kebutuhan tubuh.

Dan apakah kita sudah mulai mempersiapkan atau menyediakan dana untuk membeli hewan kurban ? Bulan Dzulhijah (Desember) sudah dekat, ayo kita meneladani kisah teladan nabi Ibrahim a.s. bersama putranya nabi Ismail a.s. dengan memotong hewan kurban (kambing atau sapi).

Agar hewan kurban bisa sampai ke yang berhak / sasaran maka salurkanlah pada lembaga-lembaga sosial yang telah ada. Misalnya LMI (Lembaga Manajemen Infaq) www.lmi-amilzakat.com atau BMH (Baitul Mal Hidayatullah) www.bmh.or.id dan lain-lain. Oleh lembaga-lembaga itu hewan kurban disalurkan ke daerah-daerah terpencil yang memang betul-betul membutuhkan. Kalau berkurban di kota biasanya sudah tidak tepat sasaran, penulis hampir tiap tahun dapat kiriman daging kurban (padahal penulis tidak berhak menerima)

Semoga bermanfaat untuk penulis dan pengunjung.

KURANGI NONTON TELEVISI (2)

4. “Ceria tanpa layar kaca”
Rumah tersebut tak “memelihara” televisi.
Tak ada televisi di rumah ternyata begitu menyenangkan. Mau tahu buktinya ?
Dikutip dari Laporan Utama Majalah Suara Hidayatullah Maret 2007

5. “Matikan TV, giatkan membaca”.
Dikutip dari Majalah LMI (OASE) Agustus 2008 / Sya’ban 1429 H

6. Hasil wawancara reporter Oase dan Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MSc di Jakarta sebagai berikut :

Ustadz Didin, bulan Ramdhan tahun ini masih aktif ngisi pengajian di televisi ?

Ada beberapa tawaran, tapi saya sudah memutuskan untuk tidak lagi ngisi pengajian di televisi. Program-program ramadhan di televisi banyak yang bergeser dari substansinya. Jadi, saya dengan halus menolak. Kalau dulu programnya serius, saya bersedia.
Dikutip dari Majalah LMI (OASE) September 2008 / Ramadhan 1429 H

7. “Gadaikan televisi karena televisi adalah kebohongan”.
Penceramah Pengajian ahad pagi masyarakat madani Bojonegoro. 07/09/2008

Maka dengan sajian-sajian tv yang sudah tidak ada batas ini dan dihubungkan dengan kutipan-kutipan diatas kita bisa menarik kesimpulan yang bijaksana tentang tv. Kita ibaratkan stasiun tv sebagai penjual dan kita (penonton) sebagai pembeli. Kita bisa membeli (memilah) sendiri mana yang cocok dikonsumsi oleh keluarga kita.

Dan kami harapkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak segan-segan dan BERANI menegur stasiun tv yang sudah keluar dari norma-norma agama dan adat ketimuran.

Dan mulai 01 Ramadhan 1429 H / 01 September 2008 kami sudah mulai membatasi keluarga dalam menonton tv. Yang sebelumnya memang berat melaksanakan ini, karena sudah ketergantungan. Maka ketergantungan ini kita kurangi sedikit demi sedikit. Dan ke depan mungkin membuat judul “AYO BENCI TELEVISI “

Akhirnya kami membuat jadual nonton tv sebagai berikut :

TAHAP

JAM

KETERANGAN

I

23.00 S.D. 07.30

KHUSUS SABTU DAN AHAD LONGGAR

II

12.00 S.D. 13.30

III

17.00 S.D. 18.00

TERGANTUNG MASUKNYA SHALAT MAGRIB

Pertama kami terapkan jadual ini pada kikuk dan bingung mau mengerjakan apa waktu yang kosong ini, biasanya waktu kosong langsung nonton / menghadap tv. Tapi setelah terbiasa, waktu kosong digunakan anak-anak membaca buku atau menyelesaikan pelajaran sekolah di dalam kamar masing-masing. Dan ketergantungan pada tv mulai berkurang.

Dengan konsekuensi kita sebagai orang tua harus menambah bahan-bahan bacaan yang bermanfaat. Untuk kedepan kami arahkan belajar menulis dan dipublikasi pada blognya masing-masing.

Cerita masa kecil.

Dulu waktu kecil (1975) belum ada listrik dan satu desa yang punya tv hanya satu, paling nonton tv kalau ada tinju Muhammad Ali. Jadi setiap pulang sekolah langsung ambil sarung (masih pakai baju pramuka) terus pergi ke langgar (musholla, sekarang) belajar mengaji. Selesai mengaji terus main-main antara lain : ke sawah cari apa yang bisa dimakan, ke ndadah (pekarangan belakang rumah tetangga) mencari burung yang menetaskan anaknya, bluron (mandi di kali bercampur orang mandikan sapi). Pulang main, mandi terus kembali berangkat ke langgar untuk shalat magrib dan mengaji. Terus………….masih banyak cerita masa kecil yang asyik, Termasuk disuruh teman-teman yang lebih besar untuk cari puntung rokok. Maklum waktu itu rokok pabrik harganya belum terjangkau anak remaja.