Showing posts with label gunung bromo. Show all posts
Showing posts with label gunung bromo. Show all posts

TAMAN WISATA WENDIT MALANG



DIKUTIP DARI BEBERAPA SUMBER :

Salah satu tempat wisata di timur kota Malang adalah Taman wisata Wendit yang mempunyai sebuah acara yang khas yang dilaksanakan pada setiap Bulan Syawal. Pada saat ini taman wisata dipenuhi pengunjung yang ingin merayakan hari Lebaran sampai dengan hari Ketupat Lebaran. Taman rekreasi dan pemandian Wendit, menyediakan kolam renang yang luas, danau kecil untuk berperahu merupakan daya tarik utama, rumah makan, permainan anak anak dan panggung terbuka.



Daya tarik lain yang khas dari Taman wisata Wendit ini adalah adanya puluhan kera yang jinak yang bebas berkeliaran di hutan kecil di Wendit dan menghuni dipepohonannya. Beberapa arca kuno juga bisa dilihat di Taman wisata Wendit ini dan dapat diperoleh pula cindera mata hasil kerajinan penduduk setempat.



Lokasi wisata alam yang dipadu dengan wisata buatan dan menempati lahan seluas 9 hektar itu memiliki beberapa prototipe diantaranya untuk wisata olah raga air, sejarah, pendidikan dan konservasi hutan kota.

Biaya yang dikenakan pengunjung agar bisa masuk ke areal Wisata Wendit itu untuk tiket masuk saja sebesar Rp10 ribu (dewasa) dan Rp5 ribu untuk anak-anak, tiket perahu dayung Rp5 ribu untuk sekali putaran, perahu dayung sedang Rp20 ribu per jam, perahu dayung kecil Rp15 ribu per jam dan kolam renang internasional sebesar Rp25 ribu.

Taman Wisata Air Wendit terletak di timur kota Malang menuju Kecamatan Tumpang, tepatnya di tepi jalan utama menuju bandara Abdurrahman Saleh dan Agro Wisata Poncokusumo serta jalam menuju lokasi wisata Gunung Bromo / Taman Nasional Semeru-Bromo-Tengger.

Untuk menuju ke Taman Wisata Wendit, dari terminal Arjosari Malang bisa menggunakan angkutan lyn TA (Tumpang-Arjosari) atau lyn ABd saleh.



KE GUNUNG BROMO





MENYAMBUT TAHUN BARU HIJRIAH 1430 / MASEHI 2009, GUNAKAN UNTUK MENGAGUMI KEBESARAN ALLAH SWT. JANGAN DIGUNAKAN UNTUK BERHURA-HURA, KARENA OTOMATIS JATAH UMUR KITA SUDAH TERLEWATI SATU TAHUN. UNTUK ITU REKREASI SAJA MELALUI PERJALANANKU.


PELESIR KE GUNUNG BROMO
Kali ini kami mengadakan pelesir ke gunung Bromo yang diikuti dua puluh orang. Dengan segala perlengkapan pelesir ke gunung yang sudah disiapkan mulai sarung tangan, kaos kaki, penutup kepala ala ninja, jaket, balsem dan lain-lain, rombongan berangkat tanggal 25-07-2008 pukul 19.45 wib.
Dari Probolinggo dengan menyusuri jalan yang terus menanjak dan berkelok-kelok dalam kegelapan rombongan tiba di pos 2 (Ngadisari) dan menemui rombongan pak Priyadi KPPN Bondowoso (yang dulu bertugas di KPPN Bojonegoro) sudah menunggu, dengan membawa oleh-oleh khasnya "tape Bondowoso".
Dari pos 2 Ngadisari kami menyewa tiga Hard Top untuk pelesir ke gunung Penanjakan dan ke gunung Bromo, Rp 275.000,- setiap Hard Top yang memuat enam orang pulang pergi. Dalam menyewa Hard Top tidak perlu tergesa-gesa, karena jumlahnya 130 unit dan dalam satu hari rata-rata dapat antrean satu kali mengangkut wisatawan yang pelesir.

Gunung Penanjakan
Perjalanan pelesir menuju Penanjakan dari Ngadisari kira-kira 20 kilometer, menyusuri lautan pasir dan tebing dengan jalan yang terus naik didalam kegelapan pagi. Tapi anehnya selama perjalanan sampai di puncak Penanjakan tidak ada kabut. Ya mungkin tanda kalalu alam kita sudah rusak. Sesampainya di puncak Penanjakan (suhu antara "02 sampai 20" derajat, dari berbagai sumber), bagi yang tidak membawa jaket bisa menyewa dan yang tidak membawa sarung tangan dan tutup kepala bisa beli langsung.
Di puncak Penanjakan inilah kita menunggu matahari terbit (sunrise), bersama wisatawan asing ditrap-trap tribun yang masih dalam pembangunan. Disini kita merasakan bersatu, berkumpul bersama orang berbagai bangsa dengan satu tujuan mengagumi, menikmati, mensyukuri ciptaan Allah SWT yang tidak ada tandingannya ini. Selain melihat sunrise, di Penanjakan yang punya ketinggian (2770m dpl} juga untuk melihat gunung Bromo, gunung Batok, gunung Kursi sebagai background terlihat gunung Semeru yang menjulang tinggi yang seriap 15 menit batuk mengeluarkan asap. Lokasi di puncak Penanjakan selain jadi rebutan wisatawan juga jadi rebutan oleh operator seluler untuk mendirikan antenna yang menjulang tinggi.

Gunung Bromo
Dari gunung Penanjakan selanjutnya turun kembali ke lautan pasir, untuk pelesir ke gunung Bromo kira-kira melalui lautan pasir sepanjang 2000 meter. Di lautan pasir tersebut dibangun Pura untuk upacara adat agama Hindu antara lain Kasada.
Bagi yang malas jalan kaki menuju gunung Bromo bisa menyewa kuda sekitar Rp 25.000,- sekali jalan. Selanjutnya naik anak tangga (bukan naik kuda) sekitar 250 jumlahnya. Di puncak gunung Bromo (2390m dpl) kita bisa melihat lautan pasir secara keseluruhan seluas kira-kira 5.200 hektar dan bisa melihat puncak gunung Penanjakan yang tadi kami injak.
Di gunung Bromo sudah tidak dingin lagi, seperti yang penulis rasakan pada tahun 1990. Kala itu dalam perjalanan (jalan kaki) badan sudah kedinginan dan hidung meler serta tersumbat. Kali ini harus melepas tiga jaket yang penulis kenakan, akhirnya malah repot bawa jaket. Jadi kalau hanya ke gunung Bromo pakai t-shirt saja, yang penting bawa sapu tangan untuk menutup hidung dan mulut dari debu lautan pasir campur kotoran kuda (seperti di Sarangan) yang berterbangan karena diaduk oleh kaki manusia dan kaki kuda.

ATAS KOMENTAR WINA, SAYA TAMBAH DUA FOTO.