Showing posts with label kppn bojonegoro. Show all posts
Showing posts with label kppn bojonegoro. Show all posts

KPPN BOJONEGORO DAN KPPN BLITAR

OLEH-OLEH KUNJUNGAN KE KPPN BLITARKabar akan dijadikannya Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Blitar sebagai KPPN Percontohan, membuat Kepala KPPN Bojonegoro ingin mengadakan Studi Banding (pinjam istilah yang sering kontroversi di media masa) ke KPPN Bliitar. Aku ganti saja dengan istilah “kunjungan”.

Memang di Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) tertulis Studi Banding ………….. dengan menggunakan kendaraan umum. Maka pada tanggal 08 Oktober kami bertiga, Jumiarsih (Kepala Kantor), Lestari dan Ali Nurkhamid (Penulis) berangkat ke KPPN Blitar. Dengan menggunakan mobil pribadi Ibu Jumi nomor polisi D703MY (baca JUMI). Kami berangkat dari Bojonegoro menuju Blitar melewati Nganjuk, Kediri yang berjarak sekitar 150 km dan ditempuh selama 3,5 jam.

Perjalanan antara Bojonegoro yang berbatasan dengan Nganjuk membuat mata kembali segar karena tiga kali keluar-masuk hutan jati yang daunnya kembali menghijau setelah diguyur hujan. Sejuk suasana perjalanan, hutan sudah mulai rimbun (tidak gundul) dan pulih karena penebangan liar beberapa waktu yang lalu. Dengan kenyataan ini mungkin Bojonegoro bisa mempertahankan sebagai daerah yang masih terkenal sebagai penghasil kayu jati yang terbaik.

Kembali ke laptop (pinjam istilahnya Tukul). Tiba di KPPN Blitar pukul 10.50 wib, kami disambut dengan gembira oleh Ibu Lydia dan seluruh karyawan, meskipun agak kaget karena kedatangan kami lebih cepat satu jam dari perkiraan. Ini namanya kejutan (pikirku).

Ternyata tulisan sudah panjang, aku tulis point-pointnya saja hasil kunjungan biar tidak jenuh.

Bagaimana kondisi KPPN Blitar ?

Masuk Front Office (FO) langsung disambut petugas SATPAM yang membukakan pintu, layaknya di bank-bank. Ruang FO terintegrasi dengan semua seksi (Subbag Umum, Pencairan Dana, Bendahara Umum dan Verifikasi dan Akuntansi) untuk mempermudah koordinasi. Sudah ada mesin antrian untuk satuan kerja yang membutuhkan layanan. Toilet dan Musholla mudah diakses dari FO.

Ruang kepala kantor langsung terhubung dengan ruang rapat serbaguna yang sudah dilengkapi multimedia, sehingga sangat praktis.

Ruang Aula bagus dengan penataan yang fleksibel, didukung peralatan sound system dan audio visual yang memadai.

Kemudian ruang arsip juga sudah tertata rapi, membuat nyaman bagi yang membutuhkan data.

Rumah Dinas terpelihara dengan bersih dilengkapi dengan lapangan futsal, dan bisa ditempuh kira-kira sepuluh menit dari kantor.

Demikian oleh-oleh kunjungan dari KPPN Blitar menurut versi penulis. Semoga tulisan ini ada manfaatnya dan mohon maaf bila ada kekurangannya.

Foto-foto bisa dicopy melalui facebook

WISATA MALIOBORO JOGJA




WISATA PARANGTRITIS, MALIOBORO, BOROBUDUR

Ini perjalanan ke Jogja yang kedua kali (04 April 2010), sebelumnya aku bersama rombongan kantorku (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara, KPPN Bojonegoro) pada tahun 2008.
Kali ini bersama rombongan Keluarga pak Maftuchin (Pemda Bojonegoro) yang mengajak tetangga sekitar untuk wisata di Jogja.

Satu bus Dali Mas berangkat menuju Jogja tanggal 03/04/2010 22.30 wib, gratis tentunya. Entah beliau punya nadhar apa kami tidak tahu. Dan tujuan wisatanya adalah ke Pantai Parangtritis, Kasongan, Borobudur, Bakpia Patuk dan Malioboro.

Wisata Parangtritis, Borobudur, Bakpia patuk dan Malioboro mungkin semua sudah tidak asing lagi dan tidak perlu diceritakan. Yang perlu diketahui adalah Wisata KAJIGELEM, yang masih di sekitar Jogja. Apa itu ? Ternyata Kajigelem adalah singkatan dari KASONGAN, sentra kerajinan gerabah dari tanah liat. JIPANGAN, sentra kerajinan dari bahan bambu. GENDENG, sentra kerajinan seni tatah sungging kulit (membuat wayang kulit). Dan LEMAHDADI, sentra industri kerajinan patung batu.

Sekarang kembali ke Malioboro, karena ada sesuatu yang penting dan tidak ter_ekspose selama ini dan tidak seimbang dengan kebesaran nama Malioboro. Dan aku hanya sekali menemukan keyword ini di google, tentang Masjid Malioboro.

Masjid Malioboro terletak kira-kira di pertengahan timur jalan Malioboro, tepatnya berada di komplek Gedung DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY). Yang diresmikan tanggal 23 Agustus 2003 oleh Gubernur DIY, Hamengku Buwono X.

Di Malioboro banyak yang dicari dan menarik, tapi mungkin masjid Malioboro jarang dicari oleh wisatawan. Karena kelihatannya yang shalat disini pedagang asongan dan orang-orang yang sudah familier dengan masjid Malioboro. Tapi semoga pandanganku ini keliru. Maaf ya………..
Enak lho mampir shalat di masjid Malioboro, setelah puas berjalan-jalan dan betis terasa kaku (ngenthok), setelah tersiram air wudlu badan kembali segar.

Masjidnya bagus, bersih dan airnya lancar. Apalagi yang kepayahan setelah keliling Malioboro, di serambi ada jasa tukang pijat dan melayani bekam (canthuk) serta menjual obat-obat herbal. Islami sekali. Tertarik ? Monggo dipun cobi (Silakan dicoba)

Foto-foto wisata di facebook Tentang Malioboro klik disini

KIRIM LKPP KE KANWIL, LIMA KALI GANTI KENDARAAN UMUM

Liku-liku mengirim LKPP ke Surabaya



Kali ini kembali tiba giliranku mengirimkan LKPP (Laporan Keuangan Pemerintah Pusat) KPPN Bojonegoro bulan Januari 2010 ke Kantor Wilayah (Kanwil) Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur di Surabaya.

Tanggal 10 Februari 2010 berangkat dari kantor sekitar pukul 08.30 wib menuju terminal Rajekwesi Bojonegoro. Menunggu beberapa lama tidak ada bis yang keluar dari terminal (padahal banyak bis), ternyata ada tukang ojek yang bilang “tidak ada bis yang jalan, lagi ada demo”. Demo kecakapan mengemudi atau demo masak ? (pikirku). Coba nanti tak mencari informasi di dalam perjalanan.

Wah gimana nih, aku bayangkan lamanya perjalanan dan harus berganti-ganti kendaraan, bila tidak ada bis. Umpama keperluan pribadi aku balik pulang, tapi ini kepentingan dinas. Mau tidak mau harus berangkat, lagi pula sudah diberi uag saku.

OK lah aku harus naik oplet Isuzu ELF (orang-orang masih banyak yang terbiasa menyebutnya kol/colt) menuju Babat yang berjarak 36 km dalam waktu lebih dari satu jam, naik bis 30 menit saja. Kenapa kok lebih lama ? Ya karena oplet sering berhenti dan kadang malah “mundur”, karena kebaikan sopirnya.

Aku nikmati saja naik oplet yang panas dan penuh sesak, sampai-sampai badan kernetnya harus berada di luar mobil dan penumpangnya berdiri di dalam sambil membungkuk. Tapi aku tak bisa mengajak bergantian duduk, karena kondisi.



Banyak cerita yang aku dapat di dalam oplet. Diantaranya penyebab demo, yaitu karena hari sebelumnya sopir bis menurunkan penumpang di sekitar rambu larangan petigaan menunju terminal (Jl. Ahmad Yani) yang di tilang Rp 200.000,00 oleh polisi. Ternyata hasil obrolan para penumpang betul, setelah keesokannya aku cocokkan dengan berita di internet. Ada juga cerita penumpang yang akan membiayai cerai saudarinya, karena geregetan dengan iparnya (off the record).

Akibat demo sopir bis mogok membuat oplet penumpangnya penuh sesak, mereka memaklumi dan sabar. Tapi yang kurang baik malah kernetnya yang memanfaatkan kesempatan, uangku Rp 50.000,00 dikembalikan Rp 43.000,00 tapi yang uangnya Rp 10.000,00 dikembalikan Rp 5.000,00 Itulah kebiasaannya.

Tiba di pasar Babat pukul 09.48 wib kemudian naik becak sampai ke Jembatan Baru Babat pukul 09.57 wib yang berjarak 2 km dengan ongkos Rp 5.000,00 Terus naik bis dari arah Tuban menuju Surabaya Rp 10.000,00

Perjalanan aku lanjutkan naik mikrolet hijau ke JMP (Jempatan Merah Plasa) Rp 3.000,00 Dari JMP ganti mikrolet lagi menuju jalan Indrapura (Kanwil Ditjen Perbendaharaan) yang ditempuh selama kurang lebih 30 menit padahal kalau naik sepeda motor paling lama sepuluh menit. Yang lama berhenti disamping masjid Kemayoran / dprd jatim, mau turun dan jalan kaki ke GKN (Gedung Keuangan Negara) takut nyeberangnya (maklum orang desa).











































Jadi biasanya Bojonegro – Kanwil Surabaya hanya tiga setengah jam, kali ini harus ditempuh hampir lima jam. Tiba di kanwil pukul 12.40 wib langsung shalat dhuhur dan menemui kepala kantorku (Bp. Hari Utomo) yang juga selesai shalat di masjid. Beliau sedang mengikuti rapat kerja di kanwil selama tiga hari.



LKPP Januari 2010



Setelah cerita tentang perjalanan yang harus lima kali ganti kendaraan umum karena adanya demo sopir bis.

Sekarang apa saja isinya LKPP Januari 2010 ? Ini aku cuplikkan yang lagi tren, yang berhubungan dengan diberlakukannya UU No.22 Tahun 2009 tentang LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN. Bagaimana pengaruhnya dengan pendapatan negara. Yaitu tentang pendapatan Jasa Kepolisian dan Pendapatan Hasil Denda/Tilang dan sebagainya (gabungan Kab. Bojonegoro dan Lamongan).

Naik atau turun pendapatan dari sektor ini ? Berikut tabel perbandingannya :



NO

URAIAN

JANUARI 2009 (Rp)

JANUARI 2010 (Rp)

KETERANGAN

1

Pendapatan Surat Ijin Menegemudi (SIM)

499.125.000

648.105.000

Naik

2

Pendapatan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK)

225.125.000

197.225.000

Turun

3

Pendapatan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB)

246.710.000

279.300.000

Naik

4

Pendapatan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB)

126.070.000

113.265.000

Turun

5

Pendapatan Klinik Pengemudi (Klipeng)

62.050.000

48.550.000

Turun

6

Pendapatan Hasil Denda/Tilang dan sebagainya

44.838.000

16.002.275

Turun



JUMLAH

1.203.918.000

1.302.447.275

Naik



Setelah diberlakukannya UU No.22 Tahun 2009 Pendapatan SIM “naik”. Karena denda bagi pengendara kendaraan bermotor yang tidak memiliki SIM Rp 1.000.000,00 sehingga membuat masyarakat mau tidak mau harus memiliki SIM. Sedangkan untuk memiliki SIM baru hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 125.000,00 melalui ujian. Kemudian pendapatan hasil denda / tilang “turun” dratis. Ini menandakan masyarakat mulai disiplin atau takut ditilang ya ?









































Itulah oleh-olehku berupa "Isuzu ELF". Aku sudah bisa membawa oleh-oleh setiap dari Kanwil Surabaya. Oleh-olehku sebelumnya (10/11/2009) adalah "Tugu Pahlawan".

Kebetulan pas Hari Pahlawan ada Pasha Ungu potong tumpeng dengan Bambang DH (Wali kota) di area Tugu Pahlawan.































Tanggal 11/03/2009 oleh-olehku “Jembatan Merah”, tanggal 09/06/2009 oleh-olehku “WTC Surabaya” dan tanggal 10/07/2009 oleh-olehku "Majid Al-Islami GKN Surabaya"

KE GUNUNG BROMO





MENYAMBUT TAHUN BARU HIJRIAH 1430 / MASEHI 2009, GUNAKAN UNTUK MENGAGUMI KEBESARAN ALLAH SWT. JANGAN DIGUNAKAN UNTUK BERHURA-HURA, KARENA OTOMATIS JATAH UMUR KITA SUDAH TERLEWATI SATU TAHUN. UNTUK ITU REKREASI SAJA MELALUI PERJALANANKU.


PELESIR KE GUNUNG BROMO
Kali ini kami mengadakan pelesir ke gunung Bromo yang diikuti dua puluh orang. Dengan segala perlengkapan pelesir ke gunung yang sudah disiapkan mulai sarung tangan, kaos kaki, penutup kepala ala ninja, jaket, balsem dan lain-lain, rombongan berangkat tanggal 25-07-2008 pukul 19.45 wib.
Dari Probolinggo dengan menyusuri jalan yang terus menanjak dan berkelok-kelok dalam kegelapan rombongan tiba di pos 2 (Ngadisari) dan menemui rombongan pak Priyadi KPPN Bondowoso (yang dulu bertugas di KPPN Bojonegoro) sudah menunggu, dengan membawa oleh-oleh khasnya "tape Bondowoso".
Dari pos 2 Ngadisari kami menyewa tiga Hard Top untuk pelesir ke gunung Penanjakan dan ke gunung Bromo, Rp 275.000,- setiap Hard Top yang memuat enam orang pulang pergi. Dalam menyewa Hard Top tidak perlu tergesa-gesa, karena jumlahnya 130 unit dan dalam satu hari rata-rata dapat antrean satu kali mengangkut wisatawan yang pelesir.

Gunung Penanjakan
Perjalanan pelesir menuju Penanjakan dari Ngadisari kira-kira 20 kilometer, menyusuri lautan pasir dan tebing dengan jalan yang terus naik didalam kegelapan pagi. Tapi anehnya selama perjalanan sampai di puncak Penanjakan tidak ada kabut. Ya mungkin tanda kalalu alam kita sudah rusak. Sesampainya di puncak Penanjakan (suhu antara "02 sampai 20" derajat, dari berbagai sumber), bagi yang tidak membawa jaket bisa menyewa dan yang tidak membawa sarung tangan dan tutup kepala bisa beli langsung.
Di puncak Penanjakan inilah kita menunggu matahari terbit (sunrise), bersama wisatawan asing ditrap-trap tribun yang masih dalam pembangunan. Disini kita merasakan bersatu, berkumpul bersama orang berbagai bangsa dengan satu tujuan mengagumi, menikmati, mensyukuri ciptaan Allah SWT yang tidak ada tandingannya ini. Selain melihat sunrise, di Penanjakan yang punya ketinggian (2770m dpl} juga untuk melihat gunung Bromo, gunung Batok, gunung Kursi sebagai background terlihat gunung Semeru yang menjulang tinggi yang seriap 15 menit batuk mengeluarkan asap. Lokasi di puncak Penanjakan selain jadi rebutan wisatawan juga jadi rebutan oleh operator seluler untuk mendirikan antenna yang menjulang tinggi.

Gunung Bromo
Dari gunung Penanjakan selanjutnya turun kembali ke lautan pasir, untuk pelesir ke gunung Bromo kira-kira melalui lautan pasir sepanjang 2000 meter. Di lautan pasir tersebut dibangun Pura untuk upacara adat agama Hindu antara lain Kasada.
Bagi yang malas jalan kaki menuju gunung Bromo bisa menyewa kuda sekitar Rp 25.000,- sekali jalan. Selanjutnya naik anak tangga (bukan naik kuda) sekitar 250 jumlahnya. Di puncak gunung Bromo (2390m dpl) kita bisa melihat lautan pasir secara keseluruhan seluas kira-kira 5.200 hektar dan bisa melihat puncak gunung Penanjakan yang tadi kami injak.
Di gunung Bromo sudah tidak dingin lagi, seperti yang penulis rasakan pada tahun 1990. Kala itu dalam perjalanan (jalan kaki) badan sudah kedinginan dan hidung meler serta tersumbat. Kali ini harus melepas tiga jaket yang penulis kenakan, akhirnya malah repot bawa jaket. Jadi kalau hanya ke gunung Bromo pakai t-shirt saja, yang penting bawa sapu tangan untuk menutup hidung dan mulut dari debu lautan pasir campur kotoran kuda (seperti di Sarangan) yang berterbangan karena diaduk oleh kaki manusia dan kaki kuda.

ATAS KOMENTAR WINA, SAYA TAMBAH DUA FOTO.

SELEKSI CALON PEGAWAI KPPN PERCONTOHAN TAHAP VI

Tanggal 22 Nopember 2008 Direktorat Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan RI menyelenggarakan seleksi calon pegawai Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Percontohan tahap VI. Seleksi ini dilaksanakan serentak di lima Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan, antara lain Kanwil Medan, Bandung, Semarang, Surabaya dan Makassar.

Untuk Kanwil Surabaya, seleksi dilaksanakan di Garden Palace Hotel yang diikuti sekitar 300 peserta dari KPPN Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Blitar, Kediri, Madiun, Pacitan, Tuban dan Bojonegoro (14 peserta, penulis nomor 3 dari kiri).

Materi yang diujikan adalah :

1. Soft Kopetensi, yang diselenggarakan oleh PT. ANEKA SEARCH INDONESIA (ASI) JAKARTA 12920. Yaitu pertanyaan sekitar kepribadian peserta.

2. Hard Kopetensi, yang dibagi menjadi dua yaitu Kuasa Bendahara Umum dan Informasi Teknologi (IT). Yaitu pertanyaan untuk mengetahui seberapa jauh peserta menguasai fungsi / tugas KPPN sehari-hari dan pengetahuan pegawai tentang hardware dan software komputer.

“Tujuan dari seleksi ini adalah sebagai upaya perubahan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat”. Kata sambutan penyelenggara.

Selain mengikuti seleksi para peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk reuni tiap angkatan masing-masing. Yaitu temu kangen angkatan 85, Program Diploma, dan STAN, sehingga terbentuk kelompok-kelompok sendiri. Perlu diketahui sebagian besar peserta adalah dari golongan II karena khusus golongan III telah diselenggarakan beberapa waktu yang lalu di KPPN Madiun.

HARI KEUANGAN KPPN BOJONEGORO



Peringatan 62 tahun Hari Keuangan oleh Perwakilan Departemen Keuangan RI di Bojonegoro dilaksanakan di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Bojonegoro dengan peserta upacara dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN), Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Bojonegoro.

Upacara dilaksanakan tanggal 30 Oktober 2008 jam 08.00 yang berlangsung lancar dan tertib dengan tema “Membangun kepercayaan publik dengan mengelola Keuangan Negara secara profesional, transparan, bersih dan akuntabel".


HALAL BIL HALAL

Hampir setiap ustadz yang diundang ceramah halal bil halal pasti mengatakan bahwa tradisi halal bil halal ini hanya ada di Indonesia. Tapi ini perlu dilestarikan sebagai tradisi/budaya yang baik bagi umat manusia khususnya umat Islam.
Perlu diingat di Indonesia banyak sekali tradisi-tradisi yang sebenarnya
tidak perlu dilestrikan yang mengatasnamakan Islam, karena sudah melenceng dari nilai Islam dan Ketauhidan. Misalnya manganan (sedekah bumi di makam), sesaji wiwit (memulai panen dengan menaruh takir di pojok sawah), larung sesaji (persembahan sesaji di laut oleh masyarakat pantai), sekatenan (membawa makanan untuk diperebutkan yang dipercaya mengandung berkah bila mendapatkan) dan masih banyak lagi (Jawa Tengah). Yang kesimpulannya mempersembahkan sesuatu dan bersyukur bukan karena Allah SWT. Tapi semoga lambat laun akan bergeser dan berubah bersamaan banyaknya orang yang pandai dalam bidang penyuluhan agama Islam.
Acara halal bil halal ini diselenggarakan oleh hampir semua kelompok/komunitas mulai dari tingkat RT, RW, kelurahan, instansi pemerintahan, kelompok-kelompok sosial dan lain-lain. Termasuk juga KPPN Bojonegoro telah menyelenggarakan Halal Bil H
alal pada tanggal 07 Oktober 2008 dipandu oleh ustadz Abdul Aziz Ahmad.
Berikut rangkuman ceramah halal bil halal :
Sejak zaman dulu sudah ada orang yang mengaku nabi, maka kita harus hati-hati dan selalu ingat bahwa nabi terakhir hanya Nabi Muhammad SAW. Juga diin
gatkan oleh ustadz berdasarkan sabda Rasullullah SAW : Yang menyebabkan manusia penghuni neraka disebabkan dari mulut dan jalan muka (lubang muka / alat kelamin). Maka kita harus pandai-pandai menjaga dua sebab tersebut. Termasuk juga bila tidak punya rasa cemburu pada suami/istri.
Juga disinggung tentang ziarah kubur yang terjadi pro dan kontra (baca Manfaat Ziarah Kubur versi penulis diposting sebelumnya). Yang penting kita ziarah kubur dengan tujuan mendoakan (posisi menghadap ke mayit) dan agar kita ingat mati. Diingatkan juga bahwa kita tidak boleh membicarakan kejelekan/aib orang yang sudah mati, bicarakan yang baik-baik saja. Sebab jika kita bicarakan yang jeleknya maka mayit akan disiksa, karena kita sudah bersaksi.
Disampaikan juga ta
nda-tanda bahwa amal dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT yaitu : 1. Ibadah lebih meningkat, 2. Tidak mengingat amal-amal yang telah dilakukan, 3. Keluarga menjadi lebih baik. (Memang pada bulan Ramadhan kita telah berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah. Mari jangan menghitung atau mengingat yang telah kita keluarkan dan lakukan)
Kemudian orang yang bangkrut di akhirat adalah yang punya kebiasaan nggunem, rasan-rasan (qhibah, arab) yaitu membicarakan aib orang lain. (Wach ini yang masih sulit dilakukan karena tidak bayar dan tidak menghabiskan pulsa apalagi cocok sama lawan bicara. Dilain kesempatan akan penulis ulas tentang qhibah, karena ceritanya juga menakutkan sekali, amal kita bisa hilang karena qhibah). Yuk latihan untuk tidak qhibah, rasan-rasan, nggunem.
Kesimpulan : Setelah ditinggal Ramadhan kita usahakan beribadah seperti saat Ramadhan, tapi memang berat dan banyak sekali kendalanya. Misalnya berangkat shalat isya’ di masjid waktu Ramadhan banyak sekali temannya, kalau selesai Ramadhan ? Padahal yang pertama dihisab (dihitung) di akhirat adalah shalat kita. Dan jangan lupa puasa syawal selama enam (6) hari yang pahalanya sepe
rti puasa setahun.
Semoga bermanfaat untuk penulis dan pengunjung.

KEGIATAN AGUSTUSAN 2008 KPPN BOJONEGORO

Rasanya tak pernah sepi di KPPN Bojonegoro pada bulan Agustus 2008, karena dalam menyambut Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 63 tahun banyak sekali kegiatan. Apalagi ada beberapa lomba yang belum pernah dilakukan.
Adapun lomba-lomba yang diselenggarakan mulai tanggal 08 sampai dengan 29 Agustus 2008 sebagai berikut :

1. Bola Voli (Net tertutup)
Juara I : Seksi Perbendaharaan
Juara II : Seksi Vera
2. Futsal
Juara I : Seksi Vera
Juara II : Seksi Perbendaharaan
3. Memasang kumis (peserta perempuan dengan mata tertutup)
Juara I : Yetty
Juara II : Sunarti
Juara III : Lilik
4. Memasak Nasi Goreng (khusus laki-laki)
Gelombang I
Juara I : Wahyu
Juara II : Lestari
Gelombang II
Juarai I : Ali N (penulis)
Juara II : Harsono
5. Menyanyikan lagu perjuangan (semua peserta mendapat souvenir).

Pelaksanaan Lomba Pasang Kumis dan Menggoreng Nasi dilaksanakan pada tanggal 29 Agustus 2008. Khusus lomba menggoreng nasi mendatangkan dua juri dari luar (mbak Ika, depan kantor dan mbak Naning, instruktur aerobic) ditambah mbak Yuli, KPPN.

Pada lomba pasang kumis para peserta banyak yang salah jalan sehingga keluar jalur dan menempel kumis tidak pada gambar yang menjadi haknya. Serta pasang kumis tidak pada tempatnya. Untuk lomba menggoreng nasi para peserta malah menjadi gugup, karena semua penonton yang mendukung pada mendekte harus begini dan begitu. Sehingga tidak sesuai dengan keinginan peserta, karena harus menuruti penonton. Tapi asyiiik.

Dan setelah lomba selesai langsung diumumkan pemenang dan penyerahan hadiah. Foto lomba selengkapnya kunjungi http://pelesir.tripod.com