KEBUN TEH JAMUS NGAWI









AGRO WISATA KEBUN TEH JAMUS NGAWI, JAWA TIMUR

Awalnya aku googling iseng-iseng mencari kebun teh selain Wonosari Lawang yang pernah aku kunjungi 7 Januari 2006. Ternyata pada 15 Desember 2009 menemukan Kebun Teh Jamus (KTJ) Ngawi. Kaget rasanya dan tidak percaya kalau di Ngawi ada Kebun Teh, karena tidak pernah dengar sebelumnya. Kaget juga teman-teman yang aku kasih tahu keberadaan kebun teh tersebut. Lain waktu lokasi ini akan aku jadualkan sebagai tujuan wisata berikutnya, pikirku.

Kemudian ada kesempatan pas liburan sekolah 04/07/2010, aku sekeluarga berangkat ke KTJ Ngawi dengan rasa penasaran.. Bagaimana kebun teh tersebut ?

KTJ Ngawi, jaraknya dari Bojonegoro sekitar 110 km dengan waktu tempuh kurang lebih 3,5 jam. Sampai di Ngawi KTJ bisa di tempuh dari dua jurusan : pertama dari terminal baru Ngawi ke jurusan Paron, Jogorogo, Ngrambe, Sine terus ke KTJ; kedua dari jurusan Ngawi Sragen, tepatnya di Widodaren belok kiri menuju Ngrambe, Sine terus ke KTJ (lebih jauh 10 km dibanding dari jurusan pertama).

Mulai dari Sine kita sudah bisa menikmati pemandangan suasana pegunungan di lereng gunung Lawu yang jalannya terus menanjak. Asyik terus-terusan melalui jalan yang berkelok-kelok (letter “S”) menuju ketinggian antara 800 hingga 1.200 mdpl (meter di atas permukaan laut) dengan dedaunan yang hijau royo-royo.

Masuk lokasi KTJ Ngawi dengan tiket Rp 3.000/orang dan bisa sepuasnya melakukan kegiatan di KTJ. Sayang lokasinya tidak begitu terawat menurut kami, mulai lokasi yang tidak bersih, MCK dan Musholla yang seadanya (untung airnya lancar dan bening). Ada pemandian tapi hanya sekedar pemandian. Ada juga camping ground yang luas.

Yang lumayan ada flying fox Rp 10.000/orang, jadi bisa sedikit tertawa menikmatinya. Dan bisa menikmati pemandangan hamparan KTJ Ngawi yang luas nan hijau. Karena kalau tidak naik flying fox kita cuma bisa jalan-jalan menyusuri jalan setapak perkebunan, tapi kalau untuk sekeluarga tidak cocok. Karena jalan-jalan setapak tersebut dipakai arena pacaran. Akhirnya kami cuma mondar-mandir disekiar pemandian, karena tidak ada fasilitas hiburan dan permainan lainnya.

Jadi jangan kaget kalau sudah pernah ke Kebun Teh Wonosari Lawang yang berada pada ketinggian 950-1250 mdpl kemudian ke Kebun Teh Jamus Ngawi yang minim fasilitas. Ya mungkin karena lokasinya tidak mendukung, maksudnya tidak terhubung dengan obyek wisata lainnya sehingga sulit berkembang.

Tapi lumayanlah sudah terhibur ketika berkendara menuju lokasi dengan pemandangan yang jarang kita kemukan di sekitar kita. Seperti riangnya lagu anak-anak “Naik-naik ke puncak gunung..........dst”

Memang untuk suhu udara tidak mengalahkan dinginnya KTJ Ngawi dibanding dengan Kebun Teh Wonosari Lawang. Aku sempat kedinginan, sehingga harus merangkap t-shirtku derngan baju lengan panjang yang aku gunakan shalat (kebiasaanku bawa baju khusus untuk shalat juga sarung, bila pergi).

Untuk mendapatkan oleh-oleh teh produk Jamus (Rp 7.000/pak) juga terbatas, karena yang menjajakan hanya penjaga pintu masuk pemandian. Itupun katanya adalah teh jatah pegawai KTJ yang dijual. Memang menurut cerita penjaga pemandian, KTJ tidak mengolah teh sendiri, tapi bahan baku teh dijual ke pabrik teh kemasan. Tapi nggak tau ya sebenarnya gimana, maaf nggak jurnalis jadi cuma wawancara sepihak saja. Foto lain KTJ di facebook.

Untuk lebih jelasnya tentang Kebun Teh Jamus Ngawi klik disini.

RADIO SUARA AL-IMAN DAN MENDENGARKAN MUSIK


Melanjutkan tulisanku yang lalu, tentang mendengarkan lagu / musik yang saya hubungkan dengan : keponakanku, cerita paklek (om) ku, radio Suara Al-Iman Surabaya dan buku Kesaksian Seorang Dokter.

Memang ketika masih muda tahun 70 - 80an aku tak lepas dari hobby mendengarkan musik jazz, blues, rock, pop, dan keroncong serta Ludruk RRI Surabaya. Waktu itu Koes Plus, Dou Kribo, Jamal Mirdad, Chrstine Panjaitan, Scorpion, Led Zepplin, Louis Amstrong, Shakatak, ABBA (tapi untung masih ada lagu rohani Islam dari Ebiet G Ade dan Bimbo, minimal ada sedikit keseimbangan dan pencerahan) dan masih banyak lagi.

Apalagi setiap menjelang tidur aku pasti mendengarkan radio sampai sekarang. Waktu itu umpama dilarangpun aku tidak akan mau. Tapi sekarang setelah sering mendengarkan pengajian, mencermati kejadian sekitar dan mulai hobby membaca buku serta majalah Islam (Suara Hidayatullah, dll). Isya Allah aku sudah bisa mulai mengurangi mendengarkan lagu / musik dan aku ganti dengan mendengarkan lantunan Ayat-ayat suci Al-Qur’an dan pengajian-pengajian.

Hal-hal yang membuat aku mulai meninggalkan mendengarkan lagu / musik :

Paklek ku suatu kesempatan pernah bercerita pada aku, begini katanya : Aku pernah bertanya pada mbah Kyai, Kalau tidur pukul berapa mbah ? Jawab mbah Kyai : Aku tidak pernah tidur. Lho kok tidak pernah tidur ? Jawab mbah Kyai : Ya karena setiap akan tidur aku niat beribadah. Jadi tidurku Insya Allah bernilai ibadah, kata mbah Kyai.

Wach ini bisa dicontoh, pikirku.

Berikutnya, setelah membaca buku “Kesaksian Seorang Dokter” pada tulisan sebelumnya. Yang aku cuplik dari halaman 56-57 sebagai berikut :

“…………….ia telah menjadikan empat hari terakhir dari usianya untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang mulia, dzikirnya tidak pernah terputus. Alangkah indahnya husnul khatimah itu, saya yakin semua orang muslim pasti mengharapkannya. Akan tetapi pernahkah terbayang oleh anda jika saja ternyata penutup usia anda adalah mendengarkan musik dan nyanyian ? Alangkah buruknya su’ul khatimah itu, yaitu mereka yang hatinya telah diracuni setan sehingga ia tidak bisa mendengarkan kecuali musik dan nyanyian, dan akhirnya itulah penutup usianya.

Pada suatu hari, tepatnya ba’da Subuh di bulan Ramadhan tahun 1418 H. saya keluar rumah untuk satu keperluan, dalam perjalanan tersebut di jalan Al-Malik Fahd saya melihat satu mobil terbalik, saya segera turun dari mobil untuk memberikan bantuan, disana saya temukan seorang pemuda yang telah tewas diiringi dengan suara penyanyi sedang mengalun.
Ia tewas dan usianya ditutup dengan iringan suara musik dan penyanyi yang haram, siapa yang ingin menutup usianya seperti ini ?”

Kemudian, karena hobbyku mendengarkan radio dari dulu, dan aku ingin ganti mendengarkan lantunan Ayat-ayat suci Al-Qur’an dari radio. Akhirnya aku setahun yang lalu menemukan radio AM (padahal sekarang radio AM jarang dijamah, tapi jauh jangkauannya) yang khusus memutar lantunan Ayat-ayat suci Al-Qur’an dan pengajian yaitu Radio Suara Al-Iman Surabaya (900AM) yang studionya sekitar 120 km dari Bojonegoro. Sehingga ini bisa menjadi pengantar tidur kami setiap malam, seperti kebiasaan mbah Kyai tadi. Semoga bisa bernilai ibadah dan istiqomah.

Untuk siang hari ketika di kantor aku mendengarkan Radio Dakwah Menara Darussalam FM Bojonegoro.

Nyanyian memang membuat kita menjadi lupa pada Allah SWT, karena kebanyakan temanya tentang percintaan dan memuja kekasih apalagi sekarang malah muncul nyanyian tentang perselingkuhan. Sedikit yang bertemakan tentang Keagungan Allah SWT.

Yuk mulai latihan mengurangi mendengarkan nyanyian-nyanyian dunia dan mulai meningkatkan mendengarkan nyanyian rohani Islam serta murattal yang bisa di download melalui internet. Paling tidak dengan target 10% nyanyian dunia dan 90% nyanyian islami dan murattal.

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi dan bermanfaat untuk kita semua, sebagai sarana untuk selalu mengingat Kebesaran Allah SWT pada setiap gerak kita dan bernilai ibadah.

PUASA RAMADHAN, BELAJAR DARI KEPONAKAN

Sebenarnya saya sudah sering mendengarkan pengajian tentang hal apa saja yang disunnahkan Rasulullah SAW khususnya pada bulan ramadhan. Yaitu berbuka puasa diawali dengan minum yang manis dan makan satu atau tiga biji kurma kemudian menyegerakan shalat Maghrib.

Tapi rasanya berat untuk melakukannya, karena mungkin masih dikuasai nafsu untuk segera melahap hidangan berbuka yang telah tersedia.

Dan saya melakukan sunnah Rasul (baru saat ini 1431 H) setelah beberapa ramadhan, keponakan (yang di pondok pesantren Al Iryad Salatiga (sekarang di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, LIPIA) berlibur ke rumah kami, Bojonegoro. Setelah berbuka dengan air minum dia pergi shalat jamaah di masjid dan makan setelah datang. Kenapa dia bisa melakukan, saya tidak ? Pikirku.

Maka saya bertekad untuk melakukannya mulai sekarang, tapi saya belum shalat jamaah di masjid (jangan ditiru). Ternyata enak berbuka puasa makan nasi setelah shalat maghrib, santai dan tidak tergesa-gesa.

Masih cerita tentang keseharian keponakan yang disiplin mengikuti sunnah Rasul, dia selalu memakai pakaian lengan panjang (baju / kaos) dan tidak pernah pakai celana pendek.Wah ……yang ini kalau lagi diluar dinas, saya belum bisa melakukan (rasanya tidak santai / gaul). Senengku pakai celana pendek, kaos oblong dan bertopi. Tapi lain waktu semoga bisa melakukannya.

Tapi saya juga pernah merasa jengkel pada keponakan. Waktu itu saya mendengarkan musik jazz kesukaan melalui komputer, tanpa permisi musik tersebut dimatikan. Ternyata diganti dengan lantunan Ayat-ayat suci Al Qur’an sambil dia menirukan. Oooo ternyata dia lagi menirukan lantunan dan menghafalkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Maklum dan serta merta hilang jengkel saya. Ini pelajaran bagi saya.

Kemudian disuatu kesempatan keponakan kami ajak mengikuti Pengajian rutin Ahad Pagi di masjid At Taqwa Bojonegoro (jl. Teuku Umar) dan setelah selesai saya suruh beli buku di halaman masjid. Buku yang di pilih dia berjudul “Kesaksian seorang dokter” Mensucikan hati melalui kisah-kisah nyata, penulis dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, SpJP. Dilain kesempatan saya beli buku itu juga.

Sampai di rumah saya ikut membaca, yang salah satu kesaksiannya tentang kisah seorang pemuda yang kecelakaan ketika mengemudi mobil sambil mendengarkan dentuman-dentuman musik hingar bingar (padahal ia dalam keadaan sakrtul maut), sangat disayangkan.

Kesimpulan, sebaiknya telinga kita setiap saat diperdengarkan bunyi-bunyian yang selalu mengingatkan kita pada keagungan sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Misalnya mendengarkan murottal, qasidah, lagu-lagu yang religius, ceramah agama Islam, standby di radio yang islami di sekitar kita. Ini semua bisa kita lakukan di RUMAH atau di MOBIL. Ya untuk anak muda mungkin masih sulit membiasakan ini (seperti aku dulu), tapi ayo mulai kita coba latihan untuk membiasakan. Saya juga mulai membiasakan. Sekali-sekali tidak apalah mendengarkan lalu-lagu yang umum.

Kalau lagi online bisa mendengarkn radio Suara Al-Iman Sarabaya atau kalau masih punya radio AM, radio ini bisa di dengar pada 900AM. Saya dengarkan di Bojonegoro masih jelas, untuk pengantar tidur.

Sebenarnya tangan belum mau berhenti menari di keyboad, tapi tulisan sudah panjang, nanti malah membuat bosan pengunjung. Posting berikutnya masih berhubungan dengan tulisan ini, yaitu tentang radio Al-Iman Surabaya.

Tentang puasa selengkapnya di http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/07/adab-adab-berpuasa/